Sabtu, 19 November 2011

Cula Sutasoma Jataka

Kisah berikut ini diceritakan dalam Cula Sutasoma Jataka. Pada masa lampau yang jauh di kota Sudassana memerintah seorang raja bernama Brahmadatta. Boddhisatta kita dilahirkan sebagai anak laki-lakinya dan bernama Somanassa. Pangeran Somanassa terkenal karena cintanya pada pelajaran, kebijaksanaannya dan kebajikannya. Ketika Pangeran cukup usia, dia menikahi seorang putri ayu bernama Chanda Dewi Jauh sebelum raja mewariskan kerajaan kepada anaknya itu, yang memenangkan hati rakyatnya melalui kebaikan hati dan kebajikannya. Pangeran , yang sangat cinta pada pelajaran, segera ditunjuk sebagai Raja Sutasoma, nama yang sering digunakan untuk menunjuk pada seorang yang sangat terpelajar.

Raja Sutasoma (boddhisatta kita) memutuskan bahwa beliau akan memfokuskan bagian pertama dari kehidupannya untuk kesejahteraan rakyat dan kerajaannya, tahun-tahun berikutnya untuk perkembangan spiritual. Dengan pikiran ini, Beliau meminta tukang cukur istana untuk memberitahu kepadanya tentang rambut abu-abu pertama yang muncul di kepalanya. Suatu hari ketika Raja memotong rambutnya, tukang cukur itu mendapat sehelai rambut abu-abu. Memotongnya dengan hati-hati dia menunjukkan pada Raja, yang kemudian memutuskan bahwa itu adalah saat bagi dia untuk meninggalkan kerajaannya, dan mulai mempraktikkan perkembangan spiritual. Setelah mengoperkan kerajaan kepada adiknya yang laki-laki, Pangeran Somadatta, Raja Sutasoma meninggalkan kerajaannya dan kekayaannya lalu menjalani kehidupan sebagai seorang petapa.

Pangeran Somadatta, Putri Chanda Dewi dan rakyat kerajaan meminta raja yang populer itu untuk tetap tinggal. Namun sang raja, yang sekarang telah membulatkan hati untuk menjalani kehidupan spiritual, menolak untuk mengubah pikirannya.

Pangeran Somadatta enggan mengambil-alih kerajaan dan tugas-tugas istana kerajaan. Namun berbagai hal sungguh tidak sama. Sang pangeran muda merindukan kakaknya, yang dicintainya dan yang kepadanya dia bergantung. Rakyat kerajaan, meskipun mencintai Pangeran Somadatta, sering membicarakan Raja bajik yang telah meninggalkan keduniawian itu. Mereka memutuskan untuk mencoba Beliau pada suatu waktu untuk memikat hati Raja dengan aneka kesukaan duniawi. Pangeran, Ratu Chanda Dewi, para menteri dan banyak rakyat mengunjungi tempat petapaan di hutan dimana Raja berdiam. Meskipun mengenakan pakaian sederhana, Raja tampak cerah dan damai, ketika dia duduk dalam meditasi di tengah-tengah aneka bunga yang bermekaran di petapaannya. Dengan menghormat di depan Raja, yang sekarang mengenakan pakaian petapa yang sederhana, mereka mempersembahkan kerajaan kepadanya.

Raja mendengarkan mereka dengan sabar, kemudian mengajarkan kepada mereka kebajikan dari kehidupan suci. Setelah mendengar ceramah beliau, Ratu dan rakyat yang menyertainya memutuskan untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi guna mengembangkan kehidupan spiritual mereka. Setelah diberi nasehat dan dorongan oleh Raja, Pangeran Muda dan para menterinya kembali ke istana untuk memerintah rakyat disana. Ketika menyempurnakan kebajikan dalam pelepasan keduniawian Boddhisatta berseru demikian :

“Sebuah kerajaan jatuh ke dalam tanganku. Seperti air liur yang menjijikkan aku biarkan ia jatuh. Karena tidak merasakan keinginan sedikitpun, dan dengan demikian pelepasan keduniawian tercapai.”

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls