Sabtu, 19 November 2011

Petapa Sumeda Sang Boddhisatwa ( calon Buddha )

Empat Asankkheyya-Kappa + 100.000 Maha-Kappa yang sangat lama dimasa lampau telah berlalu, terdapat sebuah kota yang makmur bernama Amaravati. Sebuah kota yang sempurna dalam segala hal , indah dan menyenangkan. Dikelilingi oleh pohon-pohon hijau dan taman yang indah, memiliki persediaan makanan dan barang-barang kebutuhan yang cukup. Kaya akan barang-barang berharga untuk dinikmati oleh masyarakatnya. Kota ini menghangatkan hati para dewa dan manusia.

Di kota Amaravati ini hiduplah seorang Brahmana bernama Sumedha. Ibunya adalah keturunan Brahmana dari keluarga Brahmana dari generasi ke generasi, demikian pula dengan ayahnya. Sehingga ia adalah seorang Brahmana murni karena kelahiran, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu.. Ia terlahir dari seorang ibu yang kaya-raya dan baik. Ia tidak dapat dicemooh karena kelahirannya dengan mengatakan, “Orang ini lahir dari golongan rendah sampai tujuh generasi leluhurnya.” Ia adalah orang yang tak dapat diremehkan atau dicela. Ia adalah seorang dengan darah Brahmana murni dengan fisik yang menarik perhatian setiap orang.

Sehubungan dengan kekayaannya : Ia memiliki harta yang tersimpan dalam gudang harta dalam jumlah yang sangat besar dan sejumlah besar hasil panen serta barang-barang kebutuhan untuk hidup sehari-hari. Ia mempelajari tiga Kitab-Veda : Iru, Yaju,dan Sama. Menguasai kitab-kitab ini dan dapat menghafalnya tanpa cacat.

Orang tua Sumedha meninggal dunia sewaktu ia masih sangat muda.Penjaga harta keluarga membawa daftar harta, membuka gudang harta yang penuh dengan emas, perak, batu-delima, mutiara, dan lain-lain dan memberitahukan pada Sumedha tentang kekayaan yang diwarisinya dari tujuh generasi leluhurnya tersebut serta menyerahkannya pada Sumdedha.

Setelah melalui perenungan yang mendalam, Sumedha memutuskan untuk meninggalkan keduniawian dan pergi hidup bertapa.

Sebelum pergi menjadi petapa, Sumedha melakukan Mahadana. Dengan tabuhan genderang besar, ia mengumumkan di seluruh kota Amaravati, “Kepada siapa pun yang menginginkan kekayaanku, silakan datang dan ambil.” Dan ia mendanakan kekayaannya dalam suatu mahadana kepada semua orang tanpa membedakan status miskin atau kaya. Setelah melakukan Mahadana, Sumedha sang calon Buddha masa depan, melepaskan keduniawian dan pergi menuju Pegunungan Himalaya dengan tujuan Gunung Dhammika pada hari itu juga. Dewa Sakka melihat Sumedha mendekati pegunungan Himalaya, memerintahkan dewa yang bernama Vissukamma untuk mempersiapkan sebuah tempat tinggal bagi Sumedha yang nantinya digunakan Sumedha untuk menetap sementara, karena akhirnya Sumedha memutuskan untuk meninggalkan gubuk yang dipersiapkan Dewa Sakka dan anak buahnya tersebut, dan memilih untuk tinggal di bawah pohon.

Setelah menemukan pohon yang sesuai untuk didiami, Sumedha tinggal dibawah pohon tersebut. Sumedha hidup hanya dari memakan buah-buahan yang jatuh dari pohon. Tanpa berbaring sama sekali, ia berlatih meditasi terus-menerus tanpa putus hanya dalam tiga postur : duduk, berdiri, dan berjalan, hingga pada hari ketujuh, ia mencapai Delapan pencapaian tingkat Jhana ( Empat Rupa-Jhana dan Empat Arupa-Jhana ) dan lima kekuatan batin tinggi ( Abhinna ).

Munculnya Buddha-Dipankara

Setelah petapa Sumedha berhasil dalam pertapaan-Nya, mencapai delapan tingkat pencapaian Jhana dan lima kekuatan batin tinggi seperti telah disebutkan sebelumnya, di dunia ini muncul seorang Buddha yang bernama Dipankara, Raja dari Tri-Loka ( Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu ).

Disertai empat ratus ribu Arahanta, Buddha-Dipankara mengunjungi kota Rammavati dan berdiam di Vihara Sudassana. Sementara itu Sumedha sedang menikmati kebahagiaan Jhana di dalam hutan dan sama sekali tidak mengetahui kemunculan Buddha-Dipankara di dunia ini.

Mengetahui kedatangan Buddha Dipankara di vihara Sudassana, penduduk Rammavati, setelah makan pagi, datang membawa barang-barang untuk keperluan pengobatan seperti mentega, ghee, dan lain-lain, juga bunga dan dupa untuk dipersembahkan kepada Buddha Dipankara. Pada akhir khotbah tersebut, mereka mengundang Buddha beserta murid-muridNya untuk makan keesokan harinya.

Sumedha Terbang di Angkasa

Esoknya penduduk Rammavati melakukan persiapan seksama untuk melakukan dana besar-besaran ( asadisa-mahadana ). Sebuah paviliun dibangun, bunga teratai biru yang bersih dan lembut bertebaran di dalam paviliun ; udara segar diberi wewangian empat jenis pengharum, dan berbagai macam persiapan lainnya.

Ketika persiapan selesai dilakukan di dalam kota, para penduduk mulai dengan pekerjaan memperbaiki jalan yang akan dilalui Buddha untuk memasuki kota. Dengan tanah mereka menambal lubang-lubang yang disebabkan oleh banjir dan meratakan tanah yang berlumpur dan tidak rata. Mereka juga melapisi permukaan jalan dengan pasir putih bagaikan mutiara, menebar bunga dan beras dan menanam pohon pisang lengkap dengan tandan buahnya di sepanjang jalan itu.

Pada waktu itu, Sumedha Sang Petapa meninggalkan pertapaanNya dan ketika ia melakukan perjalanan angkasa, ia melihat penduduk Rammavati berkumpul dan bergembira dalam pekerjaan memperbaiki dan menghias jalan. Merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi dibawah, ia turun dari angkasa dan berdiri sementara para penduduk memperhatikannya

Kemudian Petapa Sumedha bertanya pada penduduk, untuk apa mereka melakukan persiapan besar-besaran tersebut, dan para penduduk menjawab, “Yang Mulia Sumedha, telah muncul didunia Buddha Dipankara yang tiada bandingnya, yang telah menaklukkan lima kejahatan Mara, Ia adalah Raja terbesar di seluruh dunia, kami memperbaiki jalan ini untuk-Nya.”

Petapa Sumedha merasa gembira mendengar kata “Buddha” yang diucapkan penduduk Rammavati. Ia mengalami kebahagiaan batin yang luar biasa dan mengulang-ulang kata “Buddha, Buddha” ia tidak dapat mengendalikan kebahagiaan yang luar biasa itu muncul dalam dirinya.

Karena kebahagiaan dan perasaan religius yang mendalam, Petapa Sumedha kemudian merenungkan dalam-dalam,”Aku akan menanam benih kebajikan yang baik di tanah yang subur yaitu Buddha Dipankara ini, untuk melakukan perbuatan baik, yang sulit dan sangat jarang dapat dilakukan, juga untuk menyaksikan saat-saat bahagia munculnya seorang Buddha. Saat-saat bahagia itu sekarang telah datang kepadaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

Dengan pikiran seperti itu, Sumedha meminta kepada para penduduk untuk memberi bagian sedikit jalan untuk petapa Sumedha, sebab ia ingin berpartisipasi dalam pekerjaan memperbaiki jalan tersebut. Kemudian, penduduk dewa memberinya satu ruas jalan yang panjang, becek dan sangat tidak rata yang sangat sulit diperbaiki. Hal ini dikarenakan para penduduk percaya, bahwa Petapa Sumedha adalah Petapa yang sakti yang pasti mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit tersebut. Dan Sumedha pun dengan bahagia menerima bagian jalan yang harus dikerjakannya tersebut.

Sebelum Sumedha menyelesaikan pekerjaannya, Buddha Dipankara tiba diiringi 400.000 Arahanta, yang semuanya telah memiliki enam kemampuan batin-tinggi (Abhinna).

Sumedha mengorbankan dirinya

Sumedha menatap tanpa berkedip pada sosok Buddha, yang dianugerahi dengan 32 tanda besar seorang manusia luar-biasa ( Mahapurissa ), dan 80 tanda-tanda kecil lainnya. Ia menyaksikan sosok Buddha yang indah dan bercahaya, seperti terbuat dari emas-murni, dengan aura terang di sekeliling-Nya dan enam sinar memancar dari tubuh-Nya, seperti kilat di langit biru.

Kemudian Sumedha memutuskan sebagai berikut, “Hari ini, aku akan mengorbankan diriku untuk Buddha. Agar Ia tidak menginjak lumpur dan mengalami ketidaknyamanan, biarlah Buddha beserta 400.000 Arahanta menginjak punggungku dan seolah-olah berjalan di atas jembatan kayu berwarna batu delima. Dengan menggunakan tubuhku sebagai jembatan oleh Buddha dan para Arahanta, aku pasti akan mendapat kesejahteraan dan kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama.”

Setelah mengambil keputusan demikian, ia melepaskan sabuknya, menggelar matras kulit macan dan jubahnya di atas tanah becek kemudian berbaring tiarap diatasnya, bagaikan jembatan yang terbuat dari kayu berwarna batu delima.

Aspirasi Sumedha untuk mencapai Ke-Buddha-an

Sumedha, yang sedang bertiarap, seketika muncul keinginan untuk menjadi Buddha, “Jika aku menghendaki, hari ini juga aku dapat menjadi Arahanta yang mana asava dipadamkan dan kotoran batin lenyap. Tapi, apa untungnya ? Seorang manusia luar biasa sepertiku merealisasi Buah Arahatta dan Nibbana sebagai murid yang tidak berguna dari Buddha Dipankara ? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencapai ke-Buddha-an.”

“Apa gunanya, secara egois keluar dari lingkaran kelahiran sendirian, padahal aku adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Aku akan berusaha mencapai ke-Buddha-an dan membebaskan semua makhluk termasuk para dewa dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“Setelah mencapai ke-Buddha-an sebagai hasi dari perbuatanku yang tiada bandingnya dengan bertiarap dan menjadi jembatan untuk Buddha Dipankara, aku akan menolong banyak makhluk keluar dari lingkaran kelahiran yang merupakan lautan penderitaan.”

“ Setelah menyeberangi sungai samsara dan meninggalkan tiga alam kehiduapn, aku akan menaiki rakit Dhamma Jalan Mulia Berfaktor Delapan dan pergi menyelamatkan semua makhluk termasuk dewa.” Demikianlah pikirannya bercita-cita untuk menjadi Buddha.

Sumitta , Kelak Menjadi Yasodhara

Sewaktu Sumdedha sedang memikirkan cita-cita untuk mencapai ke-Buddha-an, seorang Brahmana perempuan muda bernama Sumitta bergabung dengan para penduduk menyambut Buddha. Ia membawa delapan kuntum bunga teratai untuk dipersembahkan pada Buddha Dipankara. Sewaktu ia sampai di tengah-tengah keramaian dan begitu matanya menatap Sumedha, ia terpesona dan seketika jatuh cinta kepadanya. Ia ingin mempersembahkan sesuatu pada Sumedha, tapi ia tidak memiliki apa-apa kecuali delapan kuntum teratai. Kemudian ia berkata kepada Sumedha, “Yang Mulia petapa, aku berikan padamu lima kuntum bunga teratai, agar engkau dapat mempersembahkannya sendiri kepada Buddha. Sisa tiga kuntum ini adalah sebagai persembahanku kepada Buddha”. Kemudian ia menyerahkan lima kuntum bunga teratai itu kepada Sumedha, kemudian menyampaikan keinginannya, “ Yang Mulia Petapa, selama waktu yang akan engkau jalani dalam mencapai Ke-Buddha-an ; semoga aku dapat selalu menjadi pendampingmu.”

Sumedha menerima bunga teratai dari Sumitta dan di tengah-tengah keramaian, mempersembahkannya kepada Buddha-Dipankara, yang datang menghampirinya.

Ramalan Pasti dari Buddha Dipankara : Sumedha kelak akan menjadi Buddha

Mengamati apa yang sedang terjadi antara Sumedha dan Sumitta, Buddha membuat ramalan di tengah-tengah keramaian :

“ O… Sumedha, perempuan ini Sumitta, akan menjadi pendampingmu dalam berbagi hidup, membantumu dengan semangat dan perbuatan yang sama dalam usahamu mencapai ke-Buddha-an, ia akan membahagiakanmu dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatannya, ia akan berpenampilan cantik dan menyenangkan, manis tutur katanya dan baik hati. Dalam usahamu mencapai ke-Buddha-an, dalam kelahiranmu yang terakhir, ia akan menjadi murid perempuan yang akan menerima warisan spiritual darimu, menjadi seorang Arahanta, lengkap dengan kemampuan batin tinggi.”

Pada saat Buddha-Dipankara menyatakan hal tersebut diatas, Petapa Sumedha memang telah memenuhi kedelapan faktor yang diperlukan untuk menerima ramalan kepastian bahwa kelak ia akan menjadi Buddha. Kedelapan faktor tersebut adalah :

1. Ia adalah manusia
2. Ia adalah laki-laki
3. Telah memenuhi semua kondisi seperti Kesempurnaan yang diperlukan untuk meraih tingkat ke-Arahatta-an dalam kehidupan itu juga
4. Dia harus bertemu muka dengan muka dengan seorang Buddha yang hidup.
5. Dia harus menjadi seorang Petapa yang percaya hukum karma (Kammavadi) atau pernah menjadi anggota Sangha dalam masa kehidupan seorang Buddha.
6. 6. Dia harus memiliki kekuatan-batin / mencapai keempat Rupa-Jhana dan keempat Arupa-Jhana ( yang dikenal sebagai “Attha-Samapatti-Jhana-Labhi” ).
7. Berusaha keras untuk mengembangkan kesempurnaan tanpa memperdulikan hidupnya .
8. Dia harus memiliki kebulatan tekad yang kuat untuk menjadi seorang Buddha meskipun dia tahu bahwa dia akan menanggung penderitaan sebagai binatang, setan, dan lain-lain di dunia yang menyedihkan. Dengan kata lain, dia harus mencegah dirinya untuk mencapai tingkat Arahat, dengan tekad bulat dan tetap berdiam di dalam samsara untuk kepentingan ummat manusia dan para dewa.

Mengetahui bahwa Sumedha memiliki persyaratan ini, Buddha Dipankara menghampiri Sumedha dan berdiri di dekat kepalanya, selagi ia masih bertiarap, dengan kekuatan batin-Nya, melihat jauh ke masa depan untuk mengetahui apakah Sumedha, yang sedang berbaring tiarap di atas lumpur, yang berkeinginan untuk menjadi Buddha, dapat tercapai keinginannya atau tidak.

Buddha Dipankara mengetahui semua tentang masa depan Sumedha, dan berkata,” Sumedha akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asankkheyya-Kappa dan 100.000 Kappa sejak saat ini.”

Setelah mendengar ramalan Buddha Dipankara yang tiada bandingnya di tiga alam, dewa dan manusia bersorak gembira, “Dikatakan Sumedha Sang petapa, adalah benar-benar seorang Bakal Buddha.” Mereka menepuk lengan kiri atas mereka dalam kegembiraan ( pada masa itu mereka tidak bertepuk tangan untuk menyatakan kegembiraan, tapi menepuk lengan kiri dengan telapak tangan kanan ). Dewa dan Brahma yang datang dari sepuluh ribu alam semesta bersama-sama dengan manusia mengangkat tangan memberi penghormatan.

Mereka juga mengungkapkannya lewat pengharapan,” Meskipun sekarang kami gagal dalam melatih ajaran Buddha Dipankara, raja dunia, kami akan bertemu lagi dengan petapa mulia ini yang kelak akan menjadi Buddha; saat itu kami akan sungguh-sungguh berusaha keras untuk mencapai pengetahuan Dhamma yang lebih tinggi.”

Setelah Buddha Dipankara membuat ramalan, Ia pergi dengan menginjakkan kaki kanan-Nya di sebelah Sumedha. Keempat ratus ribu Arahanta juga meninggalkan tempat dengan Sumedha di sisi kanan mereka ( setelah mempersembahkan bunga dan dupa ). Demikian pula dengan manusia, para Naga, musisi Surgawi ( Gandhabba ) meninggalkan tempat setelah memberi penghormatan kepada Sumedha dan mempersembahkan bunga dan dupa.

Setelah Buddha Dipankara dan keempat ratus ribu Arahanta menghilang dari pandangan, Sumedha bangun dengan gembira dari posisi tiarapnya, dan dengan pikiran dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan, ia duduk bersila diaas tumpukan bunga-bunga yang ditebarkan untuk menghormatinya oleh para dewa dan manusia, kemudian merenungkan :

“ Aku telah berhasil mencapai Jhana dan lima kemampuan batin. Di sepuluh ribu alam semesta, tidak ada petapa yang menyamaiku. Aku tidak melihat seorang pun yang sama denganku dalam hal kekuatan batin.” Dan Sumedhapun merasakan kegembiraan dan kebahagiaan luar biasa.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls