Ketika pemerintahan Raja Brahmadatta di Benares, Ratu Khema bermimpi bahwa seekor rusa berbulu keemasan duduk di singgasana raja membabarkan Hukum Kesunyataan. Dari mimpi ini sang ratu minta pada suaminya untuk membawa “rusa emas” ke istana agar Ratu Khema dapat mendengarkan khotbahnya.
Perintah raja lagi-lagi pada pemburu, dan pemburu memasang jerat. Yang kena jerat adalah raja rusa bernama Rohanta, Sang Bodhisatva yang akan terlahir terakhir kalinya sebagai Pangeran Siddhartha, mempunyai rakyat 80.000 ekor rusa, punya tanggungan merawat ayah ibunya yang sudah tua dan buta. Katika kena jerat, adik jantannya bernama Cittamigga dan adik betinanya bernama Sutanta menunggu saudaranya. Sang pemburu yang menjerat berdialog dengan ketiga rusa tadi. Dia bertanya, mengapa satu rusa kena jerat, dua rusa menunggu, bukannya lari menyelamatkan diri. Raja Rusa Rohanta menjelaskan bahwa kedua rusa jantan betina adalah saudaranya, mereka lahir dari ayah dan ibu yang sama. Keduanya tidak meninggalkan saudara yang mengalami musibah, celaka kena jerat.
Kata-kata tersebut membuat sang pemburu terharu. Selanjutnya Cittamiga menjelaskan, bahwa Raja Rusa Rohanta saudaranya adalah pemimpin bijaksana yang berani berkorban demi keselamatan 80.000 ekor rusa rakyatnya, bahkan sekarang merawat ayah ibunya yang buta dalam gua. Sang pemburu merenung. Kalau dia membunuh Rusa Rohanta, maka 80.000 ekor rusa akan kehilangan pemimpin sehingga ada kemungkinan akan tercerai berai dan tidak terjaga kelestarian hidupnya, ditambah lagi dua rusa tua yang buta akan mati tanpa perawatan. Dengan perenungan ini, sang pemburu kemudian melepaskan Raja Rusa Rohanta. Setelah dibebaskan, Raja Rusa baru mengetahui bahwa pemburu ini sebenarnya mengemban tugas untuk mempersembahkan “rusa emas” kepada Raja Brahmadatta. Rusa Rohanta minta sang pemburu mengusap punggung rusa dengan kedua tangannya. Yang terjadi, bulu rusa keemasan menempel pada tangan sang pemburu. Dengan tempelan bulu tersebut sang pemburu dapat menceriterakan bahwa dia telah bertemu dengan “Rusa Emas”, dan dengan kekuatan bulu itu pulalah sang pemburu dapat mengulang pemba- baran tentang “Hukum Kesunyataan” yang didengar dari Rusa Rohanta.
Raja mendengar awal pembabaran merasa bahagia, mempersilahkan sang pemburu duduk pada singgasana. Setelah selesai pembabaran Raja Brahmadatta menghadiahkan sebuah subang permata, seratus keping emas serta sejumlah hewan peliharaan. Ternyata Sang Pemburu tidak bersedia menerimanya, bahkan pamit kepada Raja Brahmadatta untuk meninggalkan keduniawian menjadi pertapa. Raja kemudian mengirimkan hadiah untuk sang pemburu kepada istri dan keluarganya.
Setelah itu Sang pemburu menuju ke lereng pengunungan Himalaya melatih Delapan Jalan Yang Utama, kehidupan berikutnya terlahir di alam Brahma. Raja Brahmadatta yang melaksanakan kebajikan karena memahami Hukum Kesunyataan setelah kematiannya terlahir dalam alam surga. Isi khotbah Rusa Rohanta tentang perbuatan bajik seseorang kepada ajah bunda, istri dan anak, demikian juga perbuatan bajik terhadap para pertapa, memelihara alam semesta serta segenap hewan sebagai penunjang ego sistemnya. Dengan melaksanakan hal ini, pada kelahiran berikutnya paling tidak akan terlahir dalam alam sorga.
00.28
veedeer


0 komentar:
Posting Komentar